Puisi Pujangga Baru (Sebuah Kultwit)

Nurul Maria Sisilia

nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia
Josep Grange: penyair a/ ssok yg bs mmbntuk solidaritas ssial dg crta ttg pndritaan&pghinaan unt dtjukn bg kbaikan publik #PuisiPujanggaBaru
Nurul Maria Sisilia
nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

Amir Hamzah berhasil “menghancurkan” kaidah rima yang populer pada angkatan sebelumnya. #PuisiPujanggaBaru
Nurul Maria Sisilia
nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

Pada angkatan ini, Amir Hamzah muncul sebagai Raja Puisi angktana Pujangga Baru #PuisiPujanggaBaru
Nurul Maria Sisilia
nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

Contonya terdapat pada puisi “Lapar” karya Sariamin Ismail. #PuisiPujanggaBaru
Nurul Maria Sisilia
nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

selain menggambarkan harapan menuju kemerdekaan, puisi angkatan ini pun melukiskan malangnya nasib rakyat kala itu #PuisiPujanggaBaru
Nurul Maria Sisilia
nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

berikut ktipannya: “Seorang beta dalam berduka, tiap ketika/Merindukan tanah dapat merdeka” #PuisiPujanggaBaru
Nurul Maria Sisilia
nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

Keinginan lhur unt mmasuki grbang kmerdekaan begtu tampak gamblang pada puisi Rustam Effendi, “Kepada yang Bergurau” #PuisiPujanggaBaru
Nurul Maria Sisilia
nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

selain puisi STA, nuansa yang sama dpat dirasakan pd puisi karya Sanusu Pane “Tanah Bahagia” #PuisiPujanggaBaru
Nurul Maria Sisilia
nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

cita kemerdekaan begitu kental dan tersirat nyata pada puisi karya Sutan Takdir Alisjahbana yg berjdul “Menuju ke laut” #PuisiPujanggaBaru
Nurul Maria Sisilia
nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

ketika tokoh seperti Soekarno mmlih jln juangnya lwt organisasi, para penyair b’sikap dg mdia bhsa #PuisiPujanggaBaru
Nurul Maria Sisilia
nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

pernyataan puitik patrioti ini tlhj b’efek pd banyak aspek, termasuk karya sastra #PuisiPujanggaBaru
Nurul Maria Sisilia
nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

stlh pristiwa smpah pmuda, tkad unt b’tanah air dan b’bgsa satu serta mjjnjung tggi bhs p’satuan Indonesia kian mmbahana #PuisiPujanggaBaru
Nurul Maria Sisilia
nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

kamisan FLP bandung 10 Nov 2011: “Penyair Pujangga BAru dan Cita Kemerdekaan” o/ k’ Adew habtsa #PuisiPujanggaBaru
»
Nurul Maria Sisilia
nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

kultwit Kamisan FLP Bandung ini hashtagnya #PuisiPujanggaBarusimak ya! cc @aajap

Sejarah Sastra Angkatan Pujangga Baru (Kultwit Kamisan FLP Bandung)

Rupanya, peresume kamisan yang satu  ini senang sekali memperbaharui kabar lewat Twitter.hhe..  Oleh sebab itu, resume kamisan FLP Bandung pun dibuat di Twitter dengan hastag #memoarKamisanFLPBdg. Untuk memudahkan, twit tersebut dihimpun dalam bentuk kultwit seperti di bawah ini.

Semoga tidak mengubah esensi materi kamisan dan tentunya, semoga bermanfaat! :)

 

nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

Pujangga Baru merupakan bentuk realisasi Sumpah Pemuda #memoarKamisanFLPBdg

1 hour ago

 

nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

Armijn Pane, menghadirkan prosa yang baru dan segar pd masa Pujangga Baru #memoarKamisanFLPBdg

1 hour ago

 

nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

Amir hamzah, Raja Puisi pada masa Pujangga Baru #memoarKamisanFLPBdg

1 hour ago

 

nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

tahun ke-5, Sutan Syahrir bergabung&ikut menyumbangkan pemikiran: “Kesenian hrs menggerakkan rakyat” #memoarKamisanFLPBdg

1 hour ago

 

nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

pada edisi pertama, majalah Pujangga Baru bekerjasama dg penerbit Belanda. tahun berikutnya, dibiayai sendiri oleh STA #memoarKamisanFLPBdg

1 hour ago

 

 

nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

Bersama Armijn Pane, STA mendirikan majalah Pujangga Baru #memoarKamisanFLPBdg

1 hour ago

»

 

nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

STA mengelola rubrik Kesustraan Baru di majalah Pandji Poestaka #memoarKamisanFLPBdg

1 hour ago

 

 

nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

pemikiran macam itulah yang menyebabkan STA dituduh sbg antek Barat #memoarKamisanFLPBdg

1 hour ago

 

 

nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

idealisme STA: tirulah pemikiran Barat hingga ke tulang sumsum, tinggalkan pemikiran masa lalu #memoarKamisanFLPBdg

1 hour ago

 

 

nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

meneruskan twit ttg pujangga baru…. :) #memoarKamisanFLPBdg

1 hour ago

 

 

nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

“Otak” pemikiran angkatan Pujangga Baru adalah seorang tokoh terpelajar bernama Sutan Takdir Alisjahbana #memoarKamisanFLPBdg

10 hours ago

 

nurulMsisilia Nurul Maria Sisilia

Pujangga Baru merumuskan konsep kenegaraan dalam bentuk sastra #memoarKamisanFLPBdg

10 hours ago

 

Pasted from <http://twitter.com/#!/search?q=%23memoarKamisanFLPBdg>

DOA KALBU

Di malam penuh bintang

Di atas sajadah yang kubentang
Sedu sedan sendiri
mengaduh pada Yang Mahakuasa
Betapa naif diriku ini hidup tanpa ingat pada-Mu
urat nadi pun tahu aku hampa..Di malam penuh bintang
Di bawah sinar bulan purnama
kupasrahkan semua
keluh kesah yang aku rasa
Sesak dadaku
menangis pilu
saat ku urai dosa-dosaku..
di hadapan-Mu ku tiada artinya………… 

Doa kalbu tak bisa aku bendung
deras bak hujan di gunung sahara
hatiku yang gersang……..
terasa oleh tenteram…

Hanya Engkau yang tahu siapa aku
tetapkanlah seperti malam ini
sucikan diriku selama-lamanya…….

DOA KALBUKU..

 

 

(Munsyid: Fika Mupla)

“Sunda = Suka Bercanda”

Pukul 16.10 WIB. Saat itu, saya berada dalam kereta ekonomi lokal, Kereta Rel Diesel (KRD) Ekonomi tujuan Cicalengka.

Suasana saat itu sangat sesak sebab penumpang begitu berjejal di dalam kereta.Baru berdiri selama beberapa lama saja, saya bisa merasakan keringat menderas di tubuh saya . Seperti sedang sauna, begitu kata orang. Sudah tidak jelas lagi mana yang penumpang dan mana yang pedagang. Benar-benar tak bisa bergerak. Jikapun ada yang memaksa masuk, maka orang tersebut butuh usaha yang gigih untuk dapat celah berdiri. Kemudian, orang-orang yang berada di dalam harus kembali menyisihkan sebagian celah untuk orang yang baru masuk. Saya sampai dapat merasakan pergerakan orang-orang yang memperjuangkan celah untuk orang yang baru masuk itu.  Apa karena hari ini PERSIB tanding, maka para pekerja bergegas pulang? Tanya saya iseng dalam hati. Di tengah suasana yang ramai itu, saya mendengar percakapan dua orang pemuda yang mengeluhkan keadaan kereta.

 

“Duh, abongna naek KRD nya…(Duh, mentang-mentang naik KRD ya…)” keluh seorang pemuda 1 pada rekannya.

“Naha kitu? (Memangnya kenapa?)” tanya rekannya,

“Nya KRD,  ‘Kareta Ripuh Diuk’.” (Ya KRD, Kereta Repot Duduk)” tandas pemuda 1.

 

Saya jadi tertarik dengan istilah yang disebutkan orang itu.

Menyingkat sesuatu sudah menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat Sunda. Hal ini terbukti dengan adanya gaya kirata (dikira-kira sangkan nyata) dalam bahasa Sunda. Konon, Kirata lahir karena kegemaran masyarakat sunda menyingkat sesuatu. Pada umumnya, yang menjadi objek kirata adalah verba atau kata benda.

Contohnya:

 

Semah: ngahesekeun nu boga imah

Dasi: di dada supaya aksi

Korsi: cokor di sisi

 

Singkatan-singkatan di atas agaknya disesuaikan dengan keadaan (fisik atau situasi) benda tersebut. Selain contoh di atas, kita mengenal  bentuk penyingkatan dalam penamaan makanan sunda, yaitu:

 

Cireng: Aci digoreng

Comro: Oncom dijero

Misro: Amis dijero

Peucang: Sampeu kacang

Gehu: Toge jeung tahu

Batagor: baso tahu goreng

Cilok: aci dicolok

Basreng: Baso digoreng

 

Dalam kaitannya dengan dunia pendidikan, masyarakat Sunda memiliki penyingkatan yang unik:

 

UTS: Ujian Teu Serius (Ujian Tidak Serius )

UAS: Ujian Anu Serius (Ujian yang Serius)

UNPAD: Universitas Pangkalan DAMRI

UPI: Universitas Patilasan IKIP (Universitas Peninggalan IKIP)

ITB: Institut Tatangga Binatang (Institut Tetangga Binatang), Institut Tilas Bungkarno (Institut Bekas Bungkarno)

UNISBA: Universitas Sisieun Balubur (Universitas Sisi Balubur)

UNPAS: Universitas Payuneunn Sasak (Universitas di depan ?)

Agaknya, atas dasar ini pulalah saat ini kita mengenal kirata tentang kesundaan sReperti “Urban” yang berarti “Urang Bandung”, “USA” yang berarti “Urang Sunda Asli” dan tentu saja kirata tentang “Sunda” itu sendiri yaitu “Suka Bercanda”.

Ini adalah hal yang menarik, sebab dapat menjadi khazanah kebudayan yang kaya yaitu masyarakat yang kreatif.

 

CMIIW

(Bandung, 2011)

Sunda Salawasna…

Pagi yang ramah. Koran Pikiran Rakyat dan mentari yang hangat menyapa keberadaan saya di Cicalengka. Hari ini memang telah saya rencanakan untuk membeli sebuah koran terbesar di Jawa Barat itu. Rubrik yang saya minati adalah Khazanah. Saya tidak ingin melewatkan kabar segar yang selalu dibawa koran tersebut. Benar saja, pada halaman 8 koran itu saya mendapatkan sebuah kolom yang sangat menarik. Kolom dalam judul rubrik “Mang Ohle” itu membahas peringatan hari bahasa ibu yang jatuh pada tanggal 21 Februari. Bahasa Sunda sebagai bahasa ibu patut dilestarikan. Bahasa ini adalah bahasa yang kaya, oleh sebab itu sudah sepantasnya para penuturnya bangga dan bisa menjaganya. Salah satu bukti kekayaan bahasa Sunda adalah jumlah kosa kata yang mencapai 40000. Angka yang tidak dapat dikatakan biasa. Dengan jumlah tersebut, orang sunda dapat mendongeng dengan kata-kata yang dibangun dari vokal A. Unik, bukan? Berikut adalah dongeng yang dituturkan dalam vokal A tersebut. Dongeng tersebut saya kutip sebagian saja, jika sahabat ingin membacanya lebih lengkap mak sahabat dapat membacanya di koran Pikiran Rakyat edisi tanggal 20 Februari 2011, di rubrik “Mang Ohle”.

………..

“Naha mamang cangcaya? Apan basa Jawa Barat mah kaya. Lantaran aksarana A sadayana, Mamang kapaksa bakal calangap salawasna, sarta bakal…aday. Mamang palay apal lalampahan Abah Manggalasastra ngala nangka ka Majalaya?”

“Nya hayang, da Mamang mah can apal,”

“Apan Abah Manggalasastra aya maksad hajat, Mang, hajat badag, da nangap wayang sagala. Abah Manggalasastra aya maksad ngala nangka ka Majalaya, da aya tangkalna dalapan tangkal ngajajar na sawah saat. Bral Abah Manggalasastra angkat ka Majalaya,”

“Tangkal nangkana aya, Mad?”

“Nya aya, Mang, apan tangkal nangkana mah tara kamamana, aya dalapan tangkal ngajajar na sawah saat. Sadatangna ka sawah saat, gagancangan Abah Manggalasastra ngalacat kana tangkal nangka. Barang datang kana dahan pangbadagna, Abah manggalasastra cacalawakan. “

“Cacalawakan? Naha , Mad?”

“Apan aya haphap ngarayap ka palangkakanana,”

“Hahahaha. Haphap nyasar tah!”

“Lantaran haphap gagarayaman na palangkakanana, Abah Manggalasastra ajrag-ajragan, nya ragrag ka handap.”

“Rgrag mah nya ka handap masa aya ragrag ka awang-awang,”

“Sabada ragrag na sawah saat, Abah Manggalasastra ngarasa rarampayakan sarta ngarasa sangsara, sabab lapar jaba hanaang. Garwana mapay.”

“Saha ngaran garwana, Mad?”

“Wasta garwana…mamah marhamah, anakna Bapa Yaya Atmaja, mantan Camat  Padalarang,”

“Mamah Marhamah mapay ka Majalaya?”

“Sadayana, Mang! Garwana, anakna, tatanggana, sarta baraya-barayana mapay ka Majalaya, sabab Abah Manggalasastra hajatna batal. Barang datang ka Majalaya, kasampak Abah Manggalasastra rarampayakan na sawah saat. Garwana nanya… naha Abah gagabah, ngala nangka kakalacatan sagala, apan ngala nangka mah aya gantar panjang.”

……….

(Sumber: Pikiran Rakyat, 20 Februari 2011)


Sebuah bahasa dapat dikatakan mati  apabila jumlah penuturnya kurang dari seratus ribu orang. Fakta UNESCO menunjukkan bahwa dalam jangka waktu beberapa tahun ke belakang, satu bahasa ibu akan mati dalam tujuth hari sekali. Ini adalah kondisi yang sangat mengerikan terlebih jika dikaitkan bahasa sebagai budaya manusia.

Oleh sebab itu, melestarikan eksistensi bahasa daerah sangat dipandang perlu. Hal ini tentu tidak bisa dipertentangkan dengan pelestarian bahasa nasional. Keduanya harus senantiasa sinergis dan harmonis.

Salat Dulu?

oleh:  Nurul M. Sisilia

 

“Salat dulu, yuk!”  ajak seorang teman. Ketika itu, azan zuhur telah berkumandang.

“Apa itu, ‘salat dulu’? Salat zuhur dulu, kali!” ujar teman di sampingnya mencoba membenarkan seraya tersenyum.

Percakapan seperti itu sering ditemui dalam percakapan sehari-hari. Biasanya digunakan dengan nada santai dan penuh canda.

Seperti yang kita ketahui, ibadah salat yang wajib dilakukan umat islam ada lima waktu yaitu subuh, zuhur, ashar, magrib, dan isya. Salat-salat tersebut dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu. Di samping itu, terdapat pula salat-salat sunah yang menyertainya. Salat sunah tersebut yaitu salat sunah duha, tahajud, witir, rawatib, dan lain-lain. Dari sedikit uraian di atas, tidak ditemukan salat yang bernama ‘salat dulu’. Mungkin yang “salat dulu” dalam percapan tersebut adalah “salat zuhur dulu”, artinya kata “zuhur” itu dilesapkan.  Tetapi yang menjadi masalah adalah  apakah ada yang salah dengan penggunaan kata tersebut?

Percakapan adalah salah satu contoh penggunaan bahasa lisan. Hal tersebut mempunyai perbedaan dengan bahasa tulisan. Dalam bahasa tulisan, kejelasan unsur pembentuk kata seperti subjek, predikat, objek dan lainnya diperhitungkan. Sedangkan dalam bahasa lisan hal-hal tersebut tidak menjadi perhitungan. Hal tersebut terjadi sebab ada makna yang telah diketahui bersama.

Kaidah makna dalam teori semantik bahasa indonesia terbagi menjadi makna gramatikal, makna leksikal, referensial,  konotatif, denotatif, dan kontekstual. Dalam kasus ini, makna yang digunakan adalah makna kontekstual.

Sarwiji (2008:71) memaparkan bahwa makna kontekstual (contextual meaning; situational meaning) muncul sebagai akibat hubungan antara ujaran dan situasi pada waktu ujaran dipakai. Beliau juga berpendapat bahwa makna kontekstual adalah makna kata yang sesuai dengan konteksnya (2008:72). Dalam buku linguistik umum Chaer mengungkapkan bahwa makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam konteks.  Makna konteks juga dapat berkenaan dengan situasinya yakni tempat, waktu, lingkungan, penggunaan leksem tersebut (1994:290).

Dari beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa  makna kontekstual  dipengaruh oleh situasi, tempat, waktu, lingkungan penggunaan kata tersebut. Artinya, munculnya makna kontekstual bisa disebabkan oleh situasi, tempat, waktu, dan lingkungan. Contohnya adalah kalimat  “4×3 berapa, ya?”. Jika kalimat tersebut diujarkan kepada anak SD kelas tiga, maka tentu jawabannya adalah, “Dua belas!” namun hal ini akan berbeda jika kalimat tersebut diujarkan kepada tukang cetak foto. Jawaban yang diujarkan adalah “Seribu limaratus!”. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan konteks. Seorang tukang cetak foto memberi jawaban berdasarkan harga per sentimeter.

Contoh lain dapat kita temui pada ilustrasi di bawah ini:

Di dalam sebuah bus kota, seorang pedagang asongan menawarkan dagangannya kepada seorang penumpang, “Pak, rambutan?”. Penumpang itu menjawab, “Berapa?”.

Dari ilustrasi di atas dapat ditemukan makna kontekstual . Jika kalimat “Pak, rambutan?” yang dimaksud adalah “Pak, apakah Bapak ini rambutan?” maka penumpang tersebut tidak akan menjawab “Berapa?” tetapi  justru memarahi pedagang itu. Namun, karena pedagang tersebut berujar berdasarkan barang dagangannya yaitu buah rambutan maka penumpang itu menjawab “Berapa?” yang ditujukan pada harga rambutan. Artinya, ada makna kontekstual pada percakapan tersebut.

Dalam kasus “Salat dulu” yang menjadi masalah bukan perkara benar atau tidak, melainkan tepat atau tidak. Sebab jika penggunaan bahasa yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang  harus selalu mengacu pada kaidah EYD, maka hal itu tidak berlaku pada banyak konteks atau keadaan. Bayangkan jika kita menggunakan bahasa baku untuk jenis percakapan di atas. Kalimat ajakan yang semula berbunyi, “Salat dulu, yuk!” mungkin harus diubah menjadi, “Marilah kita mengerjakan salat zuhur terlebih dahulu!”. Agaknya kesan tidak efektif akan timbul. Intinya, jika kita mengetahui konteks yang menjadi cakupannya maka ujaran semacam itu tidak akan menjadi permasalahan dan tidak perlu dipermasalahkan.

(Bandung, Januari 2011)

Kiamat pun Datang Mengingatkan Manusia*

oleh: Nurul M. Sisilia

 

Setelah menempuh perjalanan panjang dengan dua angkutan kota, saya sampai di sebuah gedung kesenian di daerah Kosambi. Gedung kesenian bernama Rumentangsiang itu tak menjadi tempat yang asing bagi saya. Sejak duduk di bangku sekolah menengah saya sudah terbiasa mengunjungi tempat ini untuk memenuhi tugas menonton pertunjukan teater dari mata pelajaran bahasa Indonesia. Perjalanan menuju tempat ini seakan sebuah nostalgia ke masa sekolah menengah dulu.

Pukul 13.00 WIB, penonton telah banyak berjejal di ruang tunggu. Pintu area pertunjukan belum juga dibuka. Terdengar gerutu para penonton mengeluhkan keterlambatan tersebut. Setelah menunggu selama lima belas menit, akhirnya pintu terbuka dan penonton berburu masuk ruang pertunjukan. Tak berapa lama penonton disuguhi atraksi lampu warna-warni di dinding panggung sebagai pembuka, muncullah tokoh-tokoh dengan kostum unik ke atas panggung. Pertunjukan bertajuk kiamat ini dimulai.

Pertunjukan ini berkisah mengenai keadaan Bumi yang telah rapuh dan renta. Keadaan ini menjadi perbincangan serius antara Matahari, Mars, Venus, dan Saturnus. Mereka sepakat untuk memanggil Bulan, sahabat dekat Bumi. Bulan diminta untuk memberitahu pemyebab Bumi nampak menderita. Dari penjelasan Bulan, mereka memperoleh kesimpulan bahwa penyebab penderitaan Bumi adalah “Kutu” di tubuh Bumi bernama manusia. Mendengar  hal itu Matahari menyusun rencana agar manusia lenyap dari Bumi. Ia memerintahkan Konrad, sang komet, untuk menlenyapkan manusia. Konrad harus membuat sebuah tabrakan yang sangat fatal bagi manusia di tubuh Bumi.

Di bumi, pemberitaan mengenai kiamat telah tersebar begitu gencar. Di sebuah belahan bumi, seorang pemimpin bersitegang dengan seorang ilmuwan bernama Profesor Guck. Sang Pemimpin yang mengangkat Profesor Guck sebagai Menteri Negara Pemberdayagunaan Tenaga Panas mencabut kembali gelar yang diberikannya sebab Sang Pemimpin tidak setuju dengan pendapat Profesor Guck bahwa penyebab kiamat bukan rekayasa manusia.

Di belahan bumi lain, dua diplomat bersikukuh tentang kiamat. Satu pihak menganggap kiamat bukanlah hal yang penting dan pihak yang lain tak ingin kestabilan Eropa terganggu karena kiamat.

Pemberitaan mengenai kiamat yang akan datang satu bulan lagi makin gencar. Profesor Guck berjuang keras menemui banyak orang untuk memperingatkan manusia bahwa kiamat kan segera terjadi. Guck punya alatnya, sekarang tinggal kesediaan manusia untuk percaya bahwa kiamat akan segera datang. Namun perjuangan Profesor Guck ini tak tersambut. Orang-orang yang ia temui menolak penemuannya, mereka sibuk dengan berbagai urusan masing-masing. Adapun orang yang bersedia menanggapi Profesor Guck, tidak lantas menerimanya dengan mudah. Profesor guck harus menunggu proses birokrasi yang rumit dan panjang. Penemuan Profesor Guck harus mendapat hak paten terlebih dahulu, hal ini tak bisa diselesaikan dalam jangka waktu kurang dari tiga puluh hari. Jelas sangat mustahil, kiamat akan datang sebentar lagi.

Profesor Guck terus berjuang dan semakin giat berjuang. Namun hasilnya sama saja. Ia pun menyerah pada waktu 15 menit sebelum kiamat datang. Sebelumnya, Profesor Guck pergi ke Amerika untuk menemui orang-orang terpandang di sana dan mengingatkan mereka bahwa mereka harus melakukan sesuatu. Orang-orang Amerika itu tak menghiraukan perkataan Profesor Guck sebab mereka telah membeli sebuah pesawat luar angkasa. Pesawat luar angkasa itu akan digunakan untuk pergi ke planet lain sehingga mereka selamat dari serangan kiamat. Profesor Guck benar-benar patah arang.

Pada akhirnya, kiamat tak jadi datang ke Bumi. Hal itu terjadi bukan karena usaha Profesor Guck untuk meyakinkan orang-orang tentang persitiwa Kiamat telah berhasil, melainkan karena pada saat itu, Konrad jatuh cinta kepada Bumi.

Tokoh Profesor Guck, Sang Pemimpin, dan manusia di bumi dalam cerita tersebut memiliki karakter yang kuat dalam simbolisasi manusia saat ini. Kiamat diartikan sebagai kehancuran, sebuah ketetapan yang pasti akan terjadi. Professor Guck berjuang memberitahu manusia bahwa kiamat akan segera datang. Tokoh Profesor Guck dapat diartikan sebagai simbolisasi peringatan kedatangan kiamat yang kentara. Manusia yang ditemui Profesor Guck menolak kebenaran datangnya kiamat. Hal ini sejalan dengan kenyataan yang ditemukan di ranah kekinian. Manusia sudah tak acuh dengan peringatan macam itu. Mereka lebih mementingkan urusan dunia daripada kiamat atau hal sejenisnya. Meskipun pada akhir cerita Konrad jatuh cinta kepada Bumi dan tidak jadi menghancurkan manusia dari tubuh Bumi, tapi ternyata tak ada manusia yang menyadari hal itu. Sebuah pesan yang cukup menggelitik.

Saya cukup menikmati cerita tersebut alur demi alur. Namun saya agak terganggu dengan pembukaan yang saya rasa cukup lama. Atraksi lampu-lampu yang menyorot ke panggung itu tidak lantas memberi klimaks tersendiri pada penampilan awal. Kemudian pada saat kekacauan terjadi di berbagai belahan bumi, saya menemukan backsound yang digunakan adalah serupa. Suara latar yang digunakan adalah semacam suara manusia-manusia di radio yang ribut dan menyuarakan kegalauan mereka tentang hari kiamat. Suara manusia di radio itu diujarkan dengan bahasa asing. Hal tersebut diulang beberapa kali setiap muncul latar suasana yang tegang dan kacau. Bagi saya, hal tersbut menjadi monoton karena nampak sama.

Secara keseluruhan, saya mengapresiasi pertunjukan tersebut. Pesan yang dapat diambil dan ditafsirkan oleh penonton menjadi nilai tambah atas pertunjukan itu. Pukul 15.30 WIB pertunjukan selesai. Penonton meninggalkan ruang pertunjukan. Saya bergegas ke luar. Langit sore itu cukup cerah, saya lantas berpikir seandainya kiamat datang setelah saya berpikir seperti ini. Tentu saja itu hanya sebuah candaan dalam tulisan saya ini.

 

 

 

 

Rumentangsiang, 14 Desember 2010.

 

*Sebenarnya tulisan ini saya buat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Apresiasi Bahasa dan Seni dari Bu Suci. Namun, saya ‘gatal’ untuk segera membagikannya di blog.  Tujuannya tak lain adalah agar lebih banyak yang bisa mengapresiasi.

 

Titip Salam untuk Angka Satu

Banyak hal yang terjadi lantas tak saya gumamkan. Oleh karena

nya, saya coba tuliskan. Bukan berarti saya bisu. Saya hanya tak mahir bertutur panjang…

berikut adalah gumaman tersebut;



============

Tak ada resolusi berarti!

Sudah cukup.

Saya lebih tertarik memperbaharui resolusi tahun lalu dan menjadikannya lebih sempurna.

Begitu lebih baik.

Setiap kali berencana dan rencana itu gagal, terkadang saya lupa bagaimana ruh dari rencana tahun lalu itu tercipta.

Ruhnya hilang. Semangat resolusi tahun lalu menguap seperti bunyi petasan di udara. Meledak lalu lenyap.

Resolusi tahun ini akan sama dengan tahun sebelumnya dan mungkin tahun-tahun sebelumnya. Ah, ini konsistensi menurut saya. Silakan Anda berkata berbeda. Toh pada hakikatnya saya tak pernah menyatakan ini  sebagai titah yang harus selalu lepas dari salah.

 

===========

Titip salam untuk angka satu di bulan ke satu, tahun dua-nol-satu-satu.  Saya  tidak akan mengucapakan selamat atas kedatangannya. Bukan apa-apa,saya hanya  tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang harus saya sambut dengan hingar bingar.

Setiap kali angka satu di bulan kesatu, dan di tahun yang baru itu datang, sejatinya ia mempertemukan manusia pada batang usia  yang tak lagi utuh.

Kita selalu merayakan berkurangnya umur kita tepat di angka satu itu.

Mari lebih bijak.

 

============

Ibu saya terganggu dengan letusan petasan yang berhamburan di angkasa. Buka karena ibu saya adalah wanita yang begitu idealis sehingga hal-hal berbau duniawi tidak terlalu ia suka. Meski ada pula alasan semacam itu, tapi sebenarnya bukan itu alasan intinya. Ibu saya memiliki sakit jantung. Ia bisa dengan mudah merasa kaget dan terganggu pada banyak keterkejutan.

Ya, di balik euforia yang membahana, sejatinya ada sisi yang tak terjamah dan menjadi begitu kontras. Begitu duka.

Semoga kita masih punya peka.

============

 

(Catatan Malam Pergantian Tahun)

Panah Arjuna

oleh: Nurul M. sisilia

 

Sore itu, saya bersama teman saya Siti pergi menuju sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Balubur. Sebuah pasar modern yang tak lama ini menggantikan pasar tradisional di tempat itu. Pasar Balubur. Pulang dari berbelanja, teman saya memutuskan utnuk melajukan Yamahanya menuju sebuah jembatan yang melintang di atasjalan besar itu. Jembatna Pasupati.

Jembatan itu kemudian mengingatkan saya pada apa yang tak sengaja saya ketahui. Tepatnya saat saya mendengar percakapan beberapa pemuda yang sedang nongkrong di jalan!

Ya, Saya baru tahu! Sungguh sangat baru tahu…setelah sekian lama terlahir  menjadi warga Bandung, saya baru tahu jika kata Pasupati atau nama jembatan itu  adalah sebuah singkatan. Pasupati adalah  singkatan dari Pasteur-Surapati.

Dulu saya pikir nama jembatan yang melintang gagah ini memang sengaja diambil dari nama panah Arjuna dalam epos Mahabharata. Panah ini digunakan Arjuna untuk membantu kerajaan Suralaya dari gangguan raksasa, Prabu Niwatakawaca, yang mengancam para dewa. Cerita lengkap mengenai Arjuna dan panahnya ini terdapat dalam kisah Arjuna Wiwaha yang saya baca ketika saya duduk di bangku SMA. Ternyata hal ini lebih dari yang saya kira, nama itu adalah sebuah singkatan.

Kasus penyingkatan ini sepertinya sama dengan kasus penyingkatan nama sebuah jalan tol di Jawa Barat. Jalan tol ini terkenal macet ketika menjelang Idul Fitri. Jalan tol Purbaleunyi. Saya sempat berpikir jika nama itu diambil dari kisah Lutung Kasarung. Mungkin nama salah satu saudara Purbararang, tokoh antagonis dalam kisah itu. Ternyata bukan! Purbaleunyi adalah  singkatan dari Purwakarta-Bandung-Cileunyi!

Saya kemudian teringat dengan penjelasan dosen sintaksis saya, Pak Mahmud Fasya. Beliau menjelaskan bahwa penamaan yang berdasarkan pada penyingkatan, sering didasarkan pada konteks yang berlaku di sebuah masyarakat. Dalam hal ini, nama Pasupati dan Purbalenyi diambil sebab telah banyak diketahui masyarakat.

Dalam kaidah bahasa Indonesa, apakah hal ini salah?

Kaidah abreviasi menurut teori berbahasa dalah  mengambil suku kata pertama dari  tiap kata yang hendak disingkat. Ini hanya hal ideal, sebab pada kenyataannya kaidah ini tidak sering digunakan. Mari kita lihat! Jika kaidah tersebut digunakan maka jembatan Pasupati harusnya menjadi jembatan “Passu”. “Pas” untuk suku kata pertama dari “Paster” dan “Su” untuk suku kata pertama dari “Surapati”. Lalu, untuk nama tol Purbaleunyi diambillah  “Pur” dari “Purwakarta”, “Ban” dari “Bandung” , dan “Ci” dari “Cileunyi”. Alhasil, nama tol itu adalah tol Purbanci! Terdengar begitu asing di telinga masyarakat.  Pada dasarnya, jelas Pak Mahmud,  bahasa Indonesia tidak begitu kaku seperti yang dikira. maka dalam penamaan yang berdasarkan penyingktanini masih dapat disesuaikan dengan konteks di masyarakat, lanjutnya.

***

Lepas dari semua teori bahasa yang meliputi nama Pasupati, saya benar-benar menikamati pemandangan kota Bandung dari atas bentangan jembatan  ‘panah Arjuna’ sore itu. Bandung nampak jelas sekali dari atas jembatan tersebut.

Silsilah Keluarga dalam Istilah Sunda

Silsilah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah asal-usul suatu keluarga berupa bagan; susur galur (keturunan). Dalam Bahasa Sunda, istilah ini dikenal dengan sebutana “Pancakaki”. Berikut adalah istilah kekeluargaan terkait hubungna kekeluargaan dalam silsilah keluarga sunda.

1. Salaki (SUAMI dlm bhs indo) = Sebutan untuk laki-laki yang memimpin sebuah keluarga. Contoh: Romeo adalah SALAKI dari Juliet, Rama adalah SALAKI dari Shinta, Tri Hatmojo adalah SALAKI dari Pamela Anderson, dst.
2. PAMAJIKAN (istri) = Sebutan untuk perempuan yang menjadi pasangan “SALAKI”. Contoh: Juliet adalah PAMAJIKAN dari Romeo.
3. ANAK (anak) = Sebutan untuk keturunan pertama dari sebuah keluarga. Contoh: Eka Ramdani, Dwi Astuti, dan Tri Hatmojo adalah ANAK dari pasangan Romeo dan Juliet. Pamela Anderson adalah ANAK dari Rama dan Shinta. Baim dan Fay Nabila adalah ANAK dari pasangan Hudson dan Jessica.
4. INCU (cucu) = Sebutan untuk keturunan kedua dari sebuah keluarga. Contoh: David Beckham, Brad Pitt dan Luna Maya adalah INCU dari pasangan Romeo dan Juliet.
5. BUYUT (cicit) = Sebutan untuk keturunan ketiga dari sebuah keluarga. Contoh: Megan Fox, Iteung dan Roy Suryo adalah BUYUT dari Romeo dan Juliet. Christian Sugiono adalah BUYUT dari Michael Jackson dan Dwi Astuti.
6. BAO (??) = Sebutan untuk keturunan keempat dari sebuah keluarga. Contoh: Christian Sugiono adalah BAO dari Romeo dan Juliet.
7. BAPA (bapak/ayah) = Sebutan untuk laki-laki yang menyebabkan terlahirnya sebuah keturunan. Contoh: Romeo adalah BAPA dari Eka, Dwi, dan Tri.

8. INDUNG (ibu) = Sebutan untuk perempuan yang menyebabkan terlahirnya sebuah keturunan. Contoh: Shinta adalah INDUNG dari Pamela Anderson.

9. AKI (kakek) = Sebutan untuk laki-laki yang merupakan orangtua dari Ayah atau Ibu. Contoh: Romeo adalah AKI untuk David Beckham, Brad Pitt dan Luna Maya.
10. NINI (nenek) = Sebutan untuk perempuan yang merupakan orangtua dari Ayah atau Ibu. Contoh: Juliet adalah NINI untuk David Beckham, Brad Pitt dan Luna Maya.
11. UYUT (??) = Sebutan untuk laki-laki atau perempuan yang menjadi orangtua dari AKI atau NINI. Contoh: Romeo dan Juliet adalah UYUT untuk Megan Fox, Iteung dan Roy Suryo.
12. BAO (??) = Sebutan untuk laki-laki atau perempuan yang menjadi orangtua dari UYUT. Contoh: Romeo dan Juliet adalah BAO-nya Christian Sugiono.
13. JANGAWARENG (????) = Orangtua dari BAO. Contoh: Romeo dan Juliet adalah JANGAWARENG-nya Gaston Castano.
14. UDEG-UDEG (?????) = Orangtua dari JANGAWARENG. Contoh: Romeo dan Juliet adalah UDEG-UDEG-nya Jessica.
15. KAKAIT SIWUR (??????) = Orangtua dari UDEG-UDEG. Contoh: Romeo dan Juliet adalah KAKAIT SIWUR-nya Baim dan Fay Nabila.
16. KARUHUN (sesepuh) = Sebutan untuk yang teratas (bisa jadi orangtua dari UDEG-UDEG kita) dalam silsilah keluarga dan sudah meninggal dunia.
17. ADI (adek) = Sebutan untuk saudara kandung yang umurnya lebih muda. Contoh: Fay Nabila adalah ADI-nya Baim.
18. LANCEUK (kakak) = Sebutan untuk saudara kandung yang umurnya lebih tua. Contoh: Baim adalah LANCEUK-nya Fay Nabila.
19. AMANG/EMANG (paman/om) = Sebutan untuk laki-laki yang menjadi adik dari orangtua. Contoh: Tri Hatmojo adalah AMANG/EMANG dari David Beckham dan Brad Pitt.
20. BIBI (bibi/tante) = Sebutan untuk perempuan yang menjadi adik dari orangtua. Contoh: Dwi Astuti adalah BIBI dari David Beckham.
21. UWA (????) = Sebutan untuk laki-laki atau perempuan yang menjadi kakak dari orangtua. Contoh: Eka Ramdani adalah UWA dari Brad Pitt.
22. ALO (keponakan) = Sebutan untuk anak dari kakak kandung. Contoh: David Beckham adalah ALO dari Dwi Astuti dan Tri Hatmojo.
23. SUAN (????)= Sebutan untuk anak dari adik kandung. Contoh: Brad Pitt dan Luna Maya adalah SUAN dari Eka Ramdani.
24. AKI TIGIGIR (???) = Sebutan untuk laki-laki yang merupakan adik atau kakak dari kakek atau nenek. Contoh: Tri Hatmojo adalah AKI TIGIGIR untuk Iteung dan Megan Fox. Eka Ramdani adalah AKI TIGIGIR untuk Iteung dan Roy Suryo.
25. NINI TIGIGIR (???) = Sebutan untuk perempuan yang merupakan adik atau kakak dari kakek atau nenek. Contoh: Dwi Astuti adalah NINI TIGIGIR dari Megan Fox dan Roy Suryo.
26. KAPI LANCEUK (kakak sepupu) = Sebutan untuk laki-laki atau perempuan yang merupakan anak dari kakak-nya orangtua (anak dari UWA). Contoh: David Beckham adalah KAPI LANCEUK-nya Brad Pit dan Luna Maya.
27. KAPI ADI (adik sepupu) = Sebutan untuk laki-laki atau perempuan yang merupakan anak dari adik-nya orangtua (anak dari AMANG/paman). Contoh: Luna Maya adalah KAPI ADI untuk Brad Pitt dan David Beckham. Brad Pitt adalah KAPI ADI untuk David Beckham.
28. ADI BEUTEUNG (adik ipar) = Sebutan untuk laki-laki atau perempuan yang menjadi adik dari pasangan. Contoh: Michael Jackson dan Pamela Anderson adalah ADIK BEUTEUNG buat Eka Ramdani.
29. LANCEUK BEUTEUNG (kakak ipar) = Sebutan untuk laki-laki atau perempuan yang menjadi kakak dari pasangan. Contoh: Eka Ramdani adalah LANCEUK BEUTEUNG untuk Michael Jackson dan Pamela Anderson.
30. MITOHA (mertua) = Sebutan untuk orangtua dari pasangan. Contoh: Rama dan Shinta adalah MITOHA untuk Tri Hatmojo. Romeo dan Juliet adalah MITOHA untuk Cinta Laura, Michael Jackson dan Pamela Anderson.
31. MINANTU (menantu) = Sebutan untuk pasangan dari anak kandung. Contoh: Cinta Laura, Michael Jackson dan Pamela Anderson adalah MINANTU-nya Romeo dan Juliet.
32. TUNGGAL (anak tunggal) = Sebutan untuk anak satu-satunya dari sebuah keluarga. Contoh: Pamela Anderson adalah anak TUNGGAL dari pasangan Rama dan Shinta.
33. CIKAL (????) = Anak Pertama dari sebuah keluarga. Contoh; Eka Ramdani adalah anak CIKAL dari Romeo dan Juliet. Baim adalah anak CIKAL dari pasangan Hudson dan Jessica.
34. PANENGAH (???) = Anak yang kelahirannya berada paling tengah diantara keseluruhan anak (berlaku untuk yang mempunyai anak dalam jumlah ganjil). Contoh: Dwi Astuti adalah anak PANENGAH dari Romeo dan Juliet.
35. PANGAIS BUNGSU (???) = Anak yang lahir sebelum anak terakhir (urutan kedua dari bawah, dan berlaku untuk keluarga yang mempunyai anak lebih dari dua). Contoh: Dwi Astuti adalah PANGAIS BUNGSU dari Romeo dan Juliet.
36. BUNGSU (bungsu) = Anak yang lahir paling akhir dari sebuah keluarga. Contoh: Tri Hatmojo adalah anak BUNGSU dari Romeo dan Juliet. Fay Nabila adalah anak BUNGSU dari Hudson dan Jessica.
37. ADI SABRAYNA (????) = sebutan untuk adik sepupu yang masih berada di jalur keturunan kakek dan nenek. Contoh: Roy Suryo dan Iteung adalah ADI SABRAYNA dari Megan Fox. Begitu juga anaknya Roy Suryo, Christian Sugiono (anaknya Iteung) adalah ADI SABRAYNA ntuk anak dari Megan Fox.
38. LANCEUK SABRAYNA (???) = sebutan untuk kakak sepupu yang masih berada di jalur keturunan kakek dan nenek. Contoh: Megan Fox adalah LANCEUK SABRAYNA dari Iteung dan Roy Suryo. Dan seterusnya.
39. BARAYA (kerabat) = Sebutan untuk saudara yang masih satu turunan, tapi sudah terlalu jauh urutannya. Contoh: Hudson adalah BARAYA dari buyutnya Megan Fox dan buyutnya Roy Suryo.
40. DULUR PET KU HINIS (saudara kandung) = Sebutan untuk saudara yang masih satu ibu dan satu bapak (saudara kandung). Contoh: Baim dan Fay Nabila. Eka Ramdani, Dwi Astuti dan Tri Hatmojo adalah DULUR PET KU HINIS.

Sumber: http://bandung.blogspot.com (dengan perubahan)

« Older entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.