Kiamat pun Datang Mengingatkan Manusia*

oleh: Nurul M. Sisilia

 

Setelah menempuh perjalanan panjang dengan dua angkutan kota, saya sampai di sebuah gedung kesenian di daerah Kosambi. Gedung kesenian bernama Rumentangsiang itu tak menjadi tempat yang asing bagi saya. Sejak duduk di bangku sekolah menengah saya sudah terbiasa mengunjungi tempat ini untuk memenuhi tugas menonton pertunjukan teater dari mata pelajaran bahasa Indonesia. Perjalanan menuju tempat ini seakan sebuah nostalgia ke masa sekolah menengah dulu.

Pukul 13.00 WIB, penonton telah banyak berjejal di ruang tunggu. Pintu area pertunjukan belum juga dibuka. Terdengar gerutu para penonton mengeluhkan keterlambatan tersebut. Setelah menunggu selama lima belas menit, akhirnya pintu terbuka dan penonton berburu masuk ruang pertunjukan. Tak berapa lama penonton disuguhi atraksi lampu warna-warni di dinding panggung sebagai pembuka, muncullah tokoh-tokoh dengan kostum unik ke atas panggung. Pertunjukan bertajuk kiamat ini dimulai.

Pertunjukan ini berkisah mengenai keadaan Bumi yang telah rapuh dan renta. Keadaan ini menjadi perbincangan serius antara Matahari, Mars, Venus, dan Saturnus. Mereka sepakat untuk memanggil Bulan, sahabat dekat Bumi. Bulan diminta untuk memberitahu pemyebab Bumi nampak menderita. Dari penjelasan Bulan, mereka memperoleh kesimpulan bahwa penyebab penderitaan Bumi adalah “Kutu” di tubuh Bumi bernama manusia. Mendengar  hal itu Matahari menyusun rencana agar manusia lenyap dari Bumi. Ia memerintahkan Konrad, sang komet, untuk menlenyapkan manusia. Konrad harus membuat sebuah tabrakan yang sangat fatal bagi manusia di tubuh Bumi.

Di bumi, pemberitaan mengenai kiamat telah tersebar begitu gencar. Di sebuah belahan bumi, seorang pemimpin bersitegang dengan seorang ilmuwan bernama Profesor Guck. Sang Pemimpin yang mengangkat Profesor Guck sebagai Menteri Negara Pemberdayagunaan Tenaga Panas mencabut kembali gelar yang diberikannya sebab Sang Pemimpin tidak setuju dengan pendapat Profesor Guck bahwa penyebab kiamat bukan rekayasa manusia.

Di belahan bumi lain, dua diplomat bersikukuh tentang kiamat. Satu pihak menganggap kiamat bukanlah hal yang penting dan pihak yang lain tak ingin kestabilan Eropa terganggu karena kiamat.

Pemberitaan mengenai kiamat yang akan datang satu bulan lagi makin gencar. Profesor Guck berjuang keras menemui banyak orang untuk memperingatkan manusia bahwa kiamat kan segera terjadi. Guck punya alatnya, sekarang tinggal kesediaan manusia untuk percaya bahwa kiamat akan segera datang. Namun perjuangan Profesor Guck ini tak tersambut. Orang-orang yang ia temui menolak penemuannya, mereka sibuk dengan berbagai urusan masing-masing. Adapun orang yang bersedia menanggapi Profesor Guck, tidak lantas menerimanya dengan mudah. Profesor guck harus menunggu proses birokrasi yang rumit dan panjang. Penemuan Profesor Guck harus mendapat hak paten terlebih dahulu, hal ini tak bisa diselesaikan dalam jangka waktu kurang dari tiga puluh hari. Jelas sangat mustahil, kiamat akan datang sebentar lagi.

Profesor Guck terus berjuang dan semakin giat berjuang. Namun hasilnya sama saja. Ia pun menyerah pada waktu 15 menit sebelum kiamat datang. Sebelumnya, Profesor Guck pergi ke Amerika untuk menemui orang-orang terpandang di sana dan mengingatkan mereka bahwa mereka harus melakukan sesuatu. Orang-orang Amerika itu tak menghiraukan perkataan Profesor Guck sebab mereka telah membeli sebuah pesawat luar angkasa. Pesawat luar angkasa itu akan digunakan untuk pergi ke planet lain sehingga mereka selamat dari serangan kiamat. Profesor Guck benar-benar patah arang.

Pada akhirnya, kiamat tak jadi datang ke Bumi. Hal itu terjadi bukan karena usaha Profesor Guck untuk meyakinkan orang-orang tentang persitiwa Kiamat telah berhasil, melainkan karena pada saat itu, Konrad jatuh cinta kepada Bumi.

Tokoh Profesor Guck, Sang Pemimpin, dan manusia di bumi dalam cerita tersebut memiliki karakter yang kuat dalam simbolisasi manusia saat ini. Kiamat diartikan sebagai kehancuran, sebuah ketetapan yang pasti akan terjadi. Professor Guck berjuang memberitahu manusia bahwa kiamat akan segera datang. Tokoh Profesor Guck dapat diartikan sebagai simbolisasi peringatan kedatangan kiamat yang kentara. Manusia yang ditemui Profesor Guck menolak kebenaran datangnya kiamat. Hal ini sejalan dengan kenyataan yang ditemukan di ranah kekinian. Manusia sudah tak acuh dengan peringatan macam itu. Mereka lebih mementingkan urusan dunia daripada kiamat atau hal sejenisnya. Meskipun pada akhir cerita Konrad jatuh cinta kepada Bumi dan tidak jadi menghancurkan manusia dari tubuh Bumi, tapi ternyata tak ada manusia yang menyadari hal itu. Sebuah pesan yang cukup menggelitik.

Saya cukup menikmati cerita tersebut alur demi alur. Namun saya agak terganggu dengan pembukaan yang saya rasa cukup lama. Atraksi lampu-lampu yang menyorot ke panggung itu tidak lantas memberi klimaks tersendiri pada penampilan awal. Kemudian pada saat kekacauan terjadi di berbagai belahan bumi, saya menemukan backsound yang digunakan adalah serupa. Suara latar yang digunakan adalah semacam suara manusia-manusia di radio yang ribut dan menyuarakan kegalauan mereka tentang hari kiamat. Suara manusia di radio itu diujarkan dengan bahasa asing. Hal tersebut diulang beberapa kali setiap muncul latar suasana yang tegang dan kacau. Bagi saya, hal tersbut menjadi monoton karena nampak sama.

Secara keseluruhan, saya mengapresiasi pertunjukan tersebut. Pesan yang dapat diambil dan ditafsirkan oleh penonton menjadi nilai tambah atas pertunjukan itu. Pukul 15.30 WIB pertunjukan selesai. Penonton meninggalkan ruang pertunjukan. Saya bergegas ke luar. Langit sore itu cukup cerah, saya lantas berpikir seandainya kiamat datang setelah saya berpikir seperti ini. Tentu saja itu hanya sebuah candaan dalam tulisan saya ini.

 

 

 

 

Rumentangsiang, 14 Desember 2010.

 

*Sebenarnya tulisan ini saya buat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Apresiasi Bahasa dan Seni dari Bu Suci. Namun, saya ‘gatal’ untuk segera membagikannya di blog.  Tujuannya tak lain adalah agar lebih banyak yang bisa mengapresiasi.

 

5 Comments

  1. January 3, 2011 at 12:39 am

    Rumentang siang,,, udah lama gak kesana😀

  2. January 3, 2011 at 5:19 am

    nurul, aku ngelink yaa. link balik yaaa

  3. dhedhi said,

    January 9, 2011 at 1:37 am

    wow… ingatan yang tajam…

    ayo bu dosen, kasih nilai bagus utk anak didik yang satu ini. aamiin
    *heheee


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: