Titip Salam untuk Angka Satu

Banyak hal yang terjadi lantas tak saya gumamkan. Oleh karena

nya, saya coba tuliskan. Bukan berarti saya bisu. Saya hanya tak mahir bertutur panjang…

berikut adalah gumaman tersebut;



============

Tak ada resolusi berarti!

Sudah cukup.

Saya lebih tertarik memperbaharui resolusi tahun lalu dan menjadikannya lebih sempurna.

Begitu lebih baik.

Setiap kali berencana dan rencana itu gagal, terkadang saya lupa bagaimana ruh dari rencana tahun lalu itu tercipta.

Ruhnya hilang. Semangat resolusi tahun lalu menguap seperti bunyi petasan di udara. Meledak lalu lenyap.

Resolusi tahun ini akan sama dengan tahun sebelumnya dan mungkin tahun-tahun sebelumnya. Ah, ini konsistensi menurut saya. Silakan Anda berkata berbeda. Toh pada hakikatnya saya tak pernah menyatakan ini  sebagai titah yang harus selalu lepas dari salah.

 

===========

Titip salam untuk angka satu di bulan ke satu, tahun dua-nol-satu-satu.  Saya  tidak akan mengucapakan selamat atas kedatangannya. Bukan apa-apa,saya hanya  tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang harus saya sambut dengan hingar bingar.

Setiap kali angka satu di bulan kesatu, dan di tahun yang baru itu datang, sejatinya ia mempertemukan manusia pada batang usia  yang tak lagi utuh.

Kita selalu merayakan berkurangnya umur kita tepat di angka satu itu.

Mari lebih bijak.

 

============

Ibu saya terganggu dengan letusan petasan yang berhamburan di angkasa. Buka karena ibu saya adalah wanita yang begitu idealis sehingga hal-hal berbau duniawi tidak terlalu ia suka. Meski ada pula alasan semacam itu, tapi sebenarnya bukan itu alasan intinya. Ibu saya memiliki sakit jantung. Ia bisa dengan mudah merasa kaget dan terganggu pada banyak keterkejutan.

Ya, di balik euforia yang membahana, sejatinya ada sisi yang tak terjamah dan menjadi begitu kontras. Begitu duka.

Semoga kita masih punya peka.

============

 

(Catatan Malam Pergantian Tahun)

5 Comments

  1. musafirhina said,

    January 9, 2011 at 5:18 am

    ah kalau saja aku suka angka satu,
    mungkin sudah ku petik bulan untuk angka satu,
    sudah ku daur ulang langitku untuk angka satu,
    kalau bisa sudah ku jejerkan pedagang surabi di pagi buta, hanya untuk angka satu.
    namun aku tak begitu suka dengan angka satu.
    aku lebih suka angka siji.

    • musafirhina said,

      January 9, 2011 at 5:19 am

      😀

    • January 10, 2011 at 1:36 pm

      muhun… muhun….
      beda ya, sastra fisika mah? heu,

      • musafirhina said,

        January 16, 2011 at 7:52 am

        sastra fisika? apaan itu … *pura2 lupa

  2. dhedhi said,

    January 14, 2011 at 2:41 pm

    ah, angka 1 telah tertinggal di belakang belasan hari lalu…
    eh, tunggu…. belasan hari ke depan, ternyata ada angka 1 lagi😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: