Salat Dulu?

oleh:  Nurul M. Sisilia

 

“Salat dulu, yuk!”  ajak seorang teman. Ketika itu, azan zuhur telah berkumandang.

“Apa itu, ‘salat dulu’? Salat zuhur dulu, kali!” ujar teman di sampingnya mencoba membenarkan seraya tersenyum.

Percakapan seperti itu sering ditemui dalam percakapan sehari-hari. Biasanya digunakan dengan nada santai dan penuh canda.

Seperti yang kita ketahui, ibadah salat yang wajib dilakukan umat islam ada lima waktu yaitu subuh, zuhur, ashar, magrib, dan isya. Salat-salat tersebut dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu. Di samping itu, terdapat pula salat-salat sunah yang menyertainya. Salat sunah tersebut yaitu salat sunah duha, tahajud, witir, rawatib, dan lain-lain. Dari sedikit uraian di atas, tidak ditemukan salat yang bernama ‘salat dulu’. Mungkin yang “salat dulu” dalam percapan tersebut adalah “salat zuhur dulu”, artinya kata “zuhur” itu dilesapkan.  Tetapi yang menjadi masalah adalah  apakah ada yang salah dengan penggunaan kata tersebut?

Percakapan adalah salah satu contoh penggunaan bahasa lisan. Hal tersebut mempunyai perbedaan dengan bahasa tulisan. Dalam bahasa tulisan, kejelasan unsur pembentuk kata seperti subjek, predikat, objek dan lainnya diperhitungkan. Sedangkan dalam bahasa lisan hal-hal tersebut tidak menjadi perhitungan. Hal tersebut terjadi sebab ada makna yang telah diketahui bersama.

Kaidah makna dalam teori semantik bahasa indonesia terbagi menjadi makna gramatikal, makna leksikal, referensial,  konotatif, denotatif, dan kontekstual. Dalam kasus ini, makna yang digunakan adalah makna kontekstual.

Sarwiji (2008:71) memaparkan bahwa makna kontekstual (contextual meaning; situational meaning) muncul sebagai akibat hubungan antara ujaran dan situasi pada waktu ujaran dipakai. Beliau juga berpendapat bahwa makna kontekstual adalah makna kata yang sesuai dengan konteksnya (2008:72). Dalam buku linguistik umum Chaer mengungkapkan bahwa makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam konteks.  Makna konteks juga dapat berkenaan dengan situasinya yakni tempat, waktu, lingkungan, penggunaan leksem tersebut (1994:290).

Dari beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa  makna kontekstual  dipengaruh oleh situasi, tempat, waktu, lingkungan penggunaan kata tersebut. Artinya, munculnya makna kontekstual bisa disebabkan oleh situasi, tempat, waktu, dan lingkungan. Contohnya adalah kalimat  “4×3 berapa, ya?”. Jika kalimat tersebut diujarkan kepada anak SD kelas tiga, maka tentu jawabannya adalah, “Dua belas!” namun hal ini akan berbeda jika kalimat tersebut diujarkan kepada tukang cetak foto. Jawaban yang diujarkan adalah “Seribu limaratus!”. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan konteks. Seorang tukang cetak foto memberi jawaban berdasarkan harga per sentimeter.

Contoh lain dapat kita temui pada ilustrasi di bawah ini:

Di dalam sebuah bus kota, seorang pedagang asongan menawarkan dagangannya kepada seorang penumpang, “Pak, rambutan?”. Penumpang itu menjawab, “Berapa?”.

Dari ilustrasi di atas dapat ditemukan makna kontekstual . Jika kalimat “Pak, rambutan?” yang dimaksud adalah “Pak, apakah Bapak ini rambutan?” maka penumpang tersebut tidak akan menjawab “Berapa?” tetapi  justru memarahi pedagang itu. Namun, karena pedagang tersebut berujar berdasarkan barang dagangannya yaitu buah rambutan maka penumpang itu menjawab “Berapa?” yang ditujukan pada harga rambutan. Artinya, ada makna kontekstual pada percakapan tersebut.

Dalam kasus “Salat dulu” yang menjadi masalah bukan perkara benar atau tidak, melainkan tepat atau tidak. Sebab jika penggunaan bahasa yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang  harus selalu mengacu pada kaidah EYD, maka hal itu tidak berlaku pada banyak konteks atau keadaan. Bayangkan jika kita menggunakan bahasa baku untuk jenis percakapan di atas. Kalimat ajakan yang semula berbunyi, “Salat dulu, yuk!” mungkin harus diubah menjadi, “Marilah kita mengerjakan salat zuhur terlebih dahulu!”. Agaknya kesan tidak efektif akan timbul. Intinya, jika kita mengetahui konteks yang menjadi cakupannya maka ujaran semacam itu tidak akan menjadi permasalahan dan tidak perlu dipermasalahkan.

(Bandung, Januari 2011)

4 Comments

  1. Asep AB said,

    January 29, 2011 at 5:08 am

    Good job…hhe…

  2. dhedhi said,

    February 10, 2011 at 3:44 pm

    hehee… mantap jaya!
    suka banget baca tulisan ini🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: